Kamis, 17 Oktober 2013

MISTERI NOMOR PRIBADI

Karya Deti Kurnia

Aku memang suka iseng kalau berbicara, tapi untuk yang satu ini ... Tuhan aku sungguh menyesal ...
"Telah terjadi sebuah kecelakaan Bus Pariwisata masuk jurang, di perkirakan 11 orang tewas, 13 orang luka - luka dan 1 orang belum di temukan, saya Ari Kurnia mengabarkan ."
"Hmm, kasian korban yang ilang, aku bantu cari ya ."
Sambil tertawa aku iseng berbicara seperti itu .

Dari kamar terdengar suara Handphone ku berbunyi, waktu aku lihat ...
"Eh malah mati, oya ... batre nya kan abis ."
aku pun kembali ke ruang TV, tiba - tiba ...
"Kriingg ... Kriingg ..."
"Hah, itu kan suara Handphone ku, bukannya tadi mati ."
Aku kaget mendngar suara itu ...
"Hallo ?" (Nomor Pribadi memanggil)

Untuk yang ketiga kalinya aku berkata .
"Hallo ? Hallo ? Idih ganggu waktu aja !" Sautku kesal, akupun mematikan teleponnya, dan handphone nya pun kembali mati .
"Aneh ." Kataku dengan raut wajah bingung .
Malamnya aku bermimpi, aku berjalan, hingga tiba di suatu tempat, aku seperti berdiri di atas tebing yang sangat tinggi .
"Kamu akan terbang, melayang, bukan untuk kembali tapi untuk pergi ."

Suara lelaki yang tak ku kenal dan tak berwujud .
"Kriingg ... Kriingg..."
"Ting ... Tong ... Ting ... Tong ..."

Suara handphone ku yang nyaring, bersamaan dengan suara jam dinding yang menunjukkan pukul 00:00 malam, membuatku terbangun .
"Ha ... Hallo ?" Suaraku gugup .
"Happy Birthday sayang, semoga panjang umur, sehat selalu, pkoknya Wish You All The Best ya ."
"Hmm makasih ya sayang, aku juga sampe lupa hari ini hari ultahku ."
"Iya kan a... "(Tut ... Tut ... Tut ...)
"Lho kok mati ."
Tiba - tiba ...
"Kriingg ... Kriingg ..."
"Pasti Doni, barusan juga kan nomor nya di private ."
Waktu aku angkat ...
"Kenapa tadi mati Don ?"
"Selembar kertas di depan pintu kamarmu ..." Dengan suara hening .
Aku terdiam, sambil berjalan perlahan ke depan pintu kamarku . Terlihat selembar kertas,yang isinya .
"Aku Ingin Seperti Bulan Tuhan ...

Aku ingin seperti bulan ...
Hanya satu takkan tersaingi
Aku ingin seperti bulan ...
Di temani beribu cahaya bintang yang indah
Aku ingin seperti bulan ...
Berada jauh di atas sana menyinari orang yang ku sayang
Aku ingin seperti bulan ...
Berada di atas menemani orang yang berduka
Aku ingin seperti bulan ...
Yang selalu hidup, yang takkan tersakiti, yang takkan menangis, yang takkan mati dan selalu bersinar ..."

Air mata ini mengalir perlahan di pipiku . Tiba - tiba ...
"Kringg ... Kriingg ..." Untuk yang kesekian kalinya nomor pribadi memanggilku .
"Hallo ? Ha ... Hallo ?" Kataku gugup .
"hhhhhhh ." Dengan suara samar .
"Hallo ? Ini siapa ."

Aku takut sangat takut .
"Sebuah mimpi yang aku ingin kamu mewujudkannya, aku mohon ... To ... Tolong ..." Jawabnya .
"Sekarang ..." Katanya dengan suara lantang .

Aku menangis sekeras kerasnya, aku takut, aku bingung, kemana orang - orang di rumah ? Mengapa mereka tidak menghampiriku ? Aku keluar kamar, tak ada siapa - siapa, ku buka pintu rumah tak ada orang .
Nomor Pribadi kembali meneleponku .
Tanpa ku angkat, aku langsung berlari keluar rumah .
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."

Sambil menangis aku terus berlari . Sampai ...
"Aku tiba di atas tebing ini, tebing yang sangat tinggi, yang aku mimpikan semalam, hiks ... hiks ."
"Terus apa yang harus aku lakukan ?" Tanyaku sambil menangis .
Rasanya kaki ini harus terus melangkah, walau tak ada lagi tempat untuk ku injak .
"Aaaaaaaaaa ..... " Saat aku terjatuh aku berkata dalam hati "Aku terbang, aku melayang bukan untuk kembali tapi untuk pergi ." Kata hatiku .

Seperti dalam mimpi, aku tertidur tapi tak bisa bangun .
"Braaakkkk ..."

Saat tubuh ini menyentuh tanah, terasa sangat sakit, untuk membuka mata pun aku tak sanggup .
"Siapa ini ? Tangan siapa yang ku pegang ?" Dalam hati .
Dengan sisa tenaga aku mencoba menoleh ke samping .

Air mata ini mengalir di pipiku .
"Ini Doni, jadi ... Doni korban yang belum di temukan itu ? Do ... Doni hiks ... hiks ... hiks ."
Dan sepertinya dunia ini sudah tak mau menerima hembusan nafasku .
Aku pergi ... Denganmu Doni ...
"Kringg ... Kriingg ... Kriingg .. " ( 1 pesan suara baru )

"Antara Ada dan Tiada
Kan slalu ... Ku rasa ... Hadirmu ... Antara ada dan tiada ...
Ku tak bisa menggapaimu takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku tak mungkin lepas lagi
Kau hanya mimpi bagiku tak untuk jadi nyata
Dan sgala rasa buatmu harus padam dan berakhir

ANTARA ADA DAN TIADA
(UTOPIA - REFF 

HANTU KEPALA BUNTUNG

Karya Hafis

Ini adalah Cerita tentang Empat Sekawan (Doni, Nita, Ardi dan Lita) yang sedang ingin berlibur.
“Ayo cepat lah, Nanti Kita tertinggal bus…!” marah Ardi terhadap empat temannya. Keempat Teman Ardi langsung berlari ke teras rumah. “Sabar dong di, aku kan sedang bersiap-siap untuk liburan kita…!” kata Nita dengan muka marah. “Kamu tuh buru-buru banget Di, Kangen sama Kampungmu ya, hahahaha” kata Dino menertawai Ardi. “Bukan Kangen tau, tapi gue udah gak sabar aja” jawab Ardi. “sama aja kali Di, Yaudah cepat kita berangkat sebelum Kesiangan” Jawab Lita yang sudah sangat siap.

Dengan hati yang senang Empat Sekawan menunggu bus di pinggir jalan. Tapi bus yang ditunggu tidak kunjung datang. “busyet dah lama banget kita menunggu di sini tapi bus nya gak dateng-dateng juga, kita udah 1 jam nunggu disini” keluhan Nita. “sabar lah nit nanti busnya juga datang kok..” jawab Ardi. Setelah menunggu lam akhirnya bus yang dari tadi di tunggu dating juga. “nih dia busnya..” Ardi menstop bus. “Dek pada mau kemana nih..?” tanya si supir bus. “mau ke desa Bandulan pak..” jawab Ardi. Akhirnya Empat Sekawan berangkat.
Hantu Kepala Buntung
Di dalam bus mereka saling bercanda. “hi hi hii hi..” Ardi bersikap layaknya pocong dan menakuti Nita. “aaaaarrrrrrgghhhh!!!” Nita dengan takut berteriak dan menampar Ardi yang sedang menjahili Nita. “apa-apaan sih kamu main tampar aja, sakit tau Nit” Ardi yang telah kesakitan menahan sakit yang bekas tamparan Nita. “habisnya kamu jahil gitu kok, tanggung tuh akibatnya. Hahahaha” Nita tertawa bahagia. “Sudah – sudah jangan berantem terus, mending kita istirahat Saja” usul Doni. Mereka pun beristirahat.
“Dek Dek..” kondektur bus membangunkan. “ayo bangun, kalian turun disini saja, bus ini mogok”. Mereka pun turun “haduh masih jauh gak Di?” Tanya Nita kepada Ardi. “masih 3 km lagi nih”. Mereka berjalan dan Ardi mempunyai usul “heh gimana kalo kita lewat hutan sebrang saja biar lebih cepet”. Doni, Nita dan Lita pun berfikir kembali. “baiklah kita lewat hutan saja, dari pada gempor”. Akhirnya mereka ber empat masuk kedalam hutan yang menyeramkan itu

Setelah berjalan cukup lama mereka ber empat baru menyadari kalau sedang tersesat. “waduh Kok dari tadi muter muter aja kita, loe tau jalannya gak Di?” Tanya Doni kepada Ardi. “Dasar sok tau loe Di, sekarang kan kita jadi tersesat kayak gini” Nita menyalahkan Ardi yang telah membuatnya tersesat seperti ini. Sekian lama mereka berjalan, mereka juga mulai lelah dan Lita mulai Putus asa akan kejadian ini “Mati aja kita tersesat seperti ini” Lita pun menagis. Mereka ber empat sudah sangat pasrah dan tak tau apa yang mau dilakukan

Semua Sudah penuh wajah pasrah dan bingung. “haduh aku laper nih, gimana kita makan dulu saja” usul dari Nita pun diterima oleh temannya. Selesai makan mereka lanjut berjalan kembali.”eh Don jangan makan keripik terus dong loe” kesal Ardi. “lah gue laper kok kalau mau ya beli sendiri sono sama setan di hutan, hahahaha” Dino menetawai Ardi. “loe aja sana yang beli, gue ogah banget dah” jawab Ardi dengan kesal.

Sudah 1 jam mereka berkeliling terus dan pada akhirnya Doni mendengar suara berisik di semak – semak “apaan tuh goyang goyang di semak-semak?” Doni pun mendekati asal gerakan dan suara itu. Ternyata hanya sebuah tupai saja “ huh dasar tuh tupai bikin merinding aja” cemas Doni. Mereka pun berjalan kembali, akan teteapi Doni malah merinding. “GILA dah gue kok jadi merinding gini” Doni berkata dalam hati. “kenapa loe Doni kok jadi pucet gitu muka loe?” Tanya Lita. Doni hanya melanjutkan perjalanan tanpa sepatah kata pun. “Makin merinding aja gue nih, apa ada setan yang ngikutin gue?” tanya Doni pada diri sendiri. Ardi menanyakan apa yang terjadi pada Doni. Doni menjawab “gue dari tadi Merinding banget nih Di”. Ardi pun hanya tertawa “hahaha hayo hayo ada setan yang ngikutin loe tuh”. Doni pun semakin takut dan wajahnya makin pucat tampak seperti tak ada darah. “Heh tunggu sebentar..” Doni menyuruh temannya berhenti. “kenapa loe Don?” Tanya Nita. Ternyata Doni mau buang air kecil. “hahaha awas Don ada setan” Jahil Ardi. Doni Berlari ke arah pohon besar dan menyeramkan. “busyet dah nih pohon gue liatin makin serem aja” . Setelah Doni Selesai. Doni melihat Hantu Tanpa Kepala sedang di atas pohon. “whaaaaaaa !! se se se seeettttaaaannnnnnnn!!” Doni pun Berlari sangat cepat. Setelah sampai di tempat teman temannya menunggu, Doni pun menceritakan apa yang di lihat tadi. “hah!! Yang benar loe Don” Kaget Lita mendengar semua Cerita Doni. “waah gila nih Hutan diem diem punya penunggunya” Ardi cemas akan apa yang terjadi.

Semuanya berjalan dengan membaca doa karena takut Hantunya nanti dateng lagi. Tiba-tiba Ardi melihat ada yang terbang daro pohon ke pohon yang lain “Ya Allah Selamatkan lah Hamba Mu ini” Ardi semakin takut dan memejamkan mata. Setelah Ardi membuka mata, ternyata Ardi terpisah oleh 3 temannya “Gila!! Gue malah sendirian gini, mending tadi gak merem dah”. Ardi berjalan terus dengan wajah pucat, tiba tiba ardi dicolek oleh seseorang, saat Ardi melihat siapa yang mencoleknya “wuuaaaahhhhh!! Setaaaaaannnn!!!” Ardi hanya berjongkok dan memejamkan mata kembali. “heh heh Di kenapa loe bilang gue setan?” Tanya Doni. Ternyata yang tadi mencolek adalah Doni temannya sendiri. “dasar loe ngagetin gue aja” kesal ardi. “makanya jalan jangan cepat cepat, gue panggilin dari tadi malah makin cepat jalanya” Doni menertawakan Ardi yang sangat ketakutan. Mereka melanjutkan perjalanan hingga jam 9 malam tidak kunjung ketemu jalan keluar hutan. “gara gara tuh setan kita makin tersesat aja nih” Nita bercakap cakap dengan Lita, Nita mulai pusing dan tiba tiba Nita pun terjatuh, “heh nit bangun bangun” Doni mencoba menyadarkan Nita. Karena Kondisi Nita memperhatinkan, Doni, Lita dan Ardi berhenti sejenak sampai Nita terbangun.

Sudah jam 1 jam dan akhirnya Nita pun tersadar. “Nit loe gapapa kan?” Ardi dan kawan kawan cemas akan keadaan Nita, Tapi Nita bilang sudah tidak apa. “sudahlah Nit kalau masih pusing mendingan kamu istirahat dulu saja” kata Lita. Nita menjawab “aku sudah tidak apa apa kok, ayo kita jalan lagi siapa tahu jalan keluarnya ketemu”. Mereka pun jalan kembali mencari jalan keluar.

“Jalan mulu pegel nih kaki gue, apalagi tadi udah lari-larian dikejar setan” Doni makin kesal tidak temukan jalan keluar. Doni duduk sebentar di sebuah batu besar “heh Don Ngapain loe duduk di sono, mau di tinggal loe” Ardi menakut-takuti Doni. Doni pun cepat bergegas pergi kembali. “eh loe nyadar gak kenapa tuh setan ngikutin kita terus?” Tanya Lita pada ke 3 temannya. “mungkin naksir sama loe kali Lit, hahaha” gurauan Ardi membuat Lita kesal. Semakin lama malam makin mencekam yang membuat semakin takut. Nita berfikir kalau dia di ikuti seseorang, Nita makin risih apa yang dirasakan dari tadi. “kenapa kamu nit kok makin pucet aja?” Tanya Lita. Nita tidak menjawab sama sekali pertanyaan Lita tadi dan terus berjalan. “heh nit kok bengong gitu, Sadar sadar!!” Lita menepuk pundak Nita yang dari tadi berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Nita pun kaget “kenapa aku di kagetin?” Tanya Nita. Lita menceritakan kalau dari tadi Nita bengong seperti orang kesurupan. Nita pun kaget karna tidak sadar kalau dari tadi di ajak ngobrol Lita.

Setelah lelah berjalan, Doni melihat ada seseorang berkain hitam di depan pohon besar. Doni berhenti dan melihatnya lebih jelas lagi, Ternyata itu Hantu Kepala Buntung yang dari tadi menakuti Doni, Lita, Ardi dan Nita. Mereka ber empat lari sampai terjatuh-jatuh. Tak lama terlihat sebuah desa terpencil, mereka ber empat pun pergi ke arah desa. Ada sesorang yang bertanya pada Doni, Nita, Ardi dan Lita “kalian kenapa ada di sini? Apa kalian bertemu Hantu tanpa kepala?” seseorang itu ternyata penduduk desa terpenceil. “kami tersesat pak dan kami memang tadi sempat bertemu hantu tanpa kepala berulang kali” Jawab Doni. Penduduk desa itu menceritakan tentang hantu tanpa kepala tersebut “sebenarnya Hantu itu tidak jahat, dia hanya ingin membantu kalian menemukan jalan keluar, memang hantu itu sangat menyeramkan, tapi hantu itu sangat baik, hantu itu selalu membantu orang tersesat, bila yang mau ditolong melarikan diri, hantu itu akan selalu mengikuti sampai tiba di desa ini”.

Penduduk itu menceritakan semua apa yang terjadi dan Empat Sekawan pun menginap di desa itu. Saat pagi, mereka di antar ke jalan keluar hutan tersebut dan Mereka melanjutkan perjalanan untuk berlibur ke Desa Bandulan

KAMAR SEBELAH

Cerpen Momo Angelina

[28 Februari 2000]
“Rafy, tolong simpan kardus-kardus ini ke kamar sebelahmu.” perintah ibu. “Siapa tahu nanti berguna,”

Aku langsung membawa setumpuk lipatan kardus itu ke kamar di sebelahku. Saat itu kami sekeluarga baru pindah, sehingga banyak barang yang harus kami tata. Untung saja rumah baru kami sangat besar dan berlantai dua, jadi kami tidak usah bersempit-sempitan lagi seperti di rumah lama.

Saat aku masuk ke ruangan di sebelah kamarku, jendela besar langsung terpampang di sana tanpa tirai. Aku bisa melihat pemandangan hutan dari sana dengan sangat jelas. Pucuk-pucuk pepohonan melambai-lambai seolah-olah mengajakku untuk pergi ke sana. Tapi memang itu keinginanku. Aku paling suka berkemah atau menjelajahi hutan yang belum kukenal. Dan untungnya, ayah mengizinkanku untuk berkemah di hutan itu.

Siang terus berlanjut. Aku bersama kakak perempuanku—Dona—tidak henti-hentinya membantu ayah dan ibu, hingga waktu senja datang menjemput kami. Setelah menutup semua tirai dan membersihkan diri, kami langsung makan malam bersama di ruang makan.
* * *

Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika aku bergegas naik ke tempat tidur. Alunan musik rock yang datang dari kamar kakakku sangat menyiksaku saat itu. Meski kamarnya ada di bawah, namun musiknya tetap terdengar sampai ke telingaku.

Aku jadi benar-benar tidak bisa tidur.
Hingga akhirnya terdengar sebuah suara yang datang dari kamar di sebelahku. Sebuah suara yang lumayan keras, dan membuat lantai kamarku bergetar. Aku langsung bangkit dan memasang telinga baik-baik. Itu suara jendela dibanting. Tidak salah lagi. Tapi siapa yang membantingnya?

Dan pada saat itu juga, alunan musik rock dari kamar kakakku berhenti seketika. Suasana menjadi hening. Tetapi tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga dan melewat di depan kamarku. Setelah itu suara langkah kakinya tak terdengar lagi. Kupikir itu adalah Kak Dona yang berlari. Mungkin ia juga mendengar jendela dibanting keras, lalu segera berlari menghampiri kamar sebelahku itu. Akhirnya aku pun keluar dari kamarku.
“Kakak? Kakak ada di sana?” tanyaku sambil mengetuk pintu kamar sebelahku.

Tidak ada jawaban. Karena penasaran, aku buka pintunya. Ternyata di dalamnya sama sekali tidak ada siapa-siapa, dan jendela besarnya masih tertutup dan terkunci. Aneh sekali, pikirku.

Tiba-tiba ada suara seorang anak perempuan meminta tolong!
“Tolong … Tolong aku … ”
Aku benar-benar terkejut. “Siapa itu?!”
“Tolong aku … “

Aku berpaling ke sana kemari, mencari asal muasal suara itu. Namun aku tidak menemukannya. Dan meski aku sudah berbaring di kamarku, suara menyeramkan itu terus-menerus menghantuiku sepanjang malam. Aku benar-benar tidak bisa tidur.
* * *

“Benarkah?” ujar Dona. “Padahal ‘kan aku membiarkan kaset rock-ku menyala sampai tengah malam.”
“Tidak mungkin. Aku benar-benar mendengar kalau musik rock di kamar kakak mati setelah ada suara jendela dibanting itu. Lalu terdengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga,” jelasku. Saat itu kami sedang makan pagi. Aku ceritakan semuanya kepada kakak, ayah dan ibu.

Ibu hanya tersenyum mendengar perkataanku. “Mungkin kamu hanya bermimpi,”
“Kau tidak biasa dengan rumah ini, sehingga … yah—halusinasimu mulai bermain dan mengganggumu.” tambah ayah. “Kalau sudah terbiasa pasti tidak akan begitu,”

Aku mengeluh di dalam hati. Mengapa mereka tidak pernah percaya padaku? Sedangkan pada Kak Dona, semua yang diceritakannya selalu ditanggapi dan dipercaya. Aku dan dia ‘kan hanya beda 5 tahun. Aku kelas 4 SD, sedangkan dia kelas 1 SMA. Tapi kata teman-temanku, orang yang lebih tua memang lebih dipercaya.
“Oh ya, nanti malam, pamanmu akan datang menginap di sini.” kata ayah membuyarkan lamunanku. “Ia akan datang bersama Arine. Biarkan mereka memilih kamar yang mereka mau untuk ditempati,”

Arine. Ya. Siapa yang tidak mengenal dia. Anak itu sebaya denganku, tetapi punya kelebihan. Dia pintar, manja dan cantik. Orang tuanya yang kaya raya membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Semua yang diinginkannya selalu dipenuhi. Di depan orang tuaku atau orang lain, ia adalah gadis manis yang penuh sopan santun. Tapi di depanku, ia adalah anak yang sombong dan licik.“Kenapa harus memilih? Biar saja mereka tidur di kamar sebelahku.” tukasku kesal.

Ayah menatapku. “Rafy, dengarkan ayah. Pamanmu yang menemukan rumah besar ini. Pamanmu yang meminta pemilik rumah ini agar harga jualnya dipotong sehingga tidak terlalu mahal. Dan pamanmu juga yang membayar setengahnya.” Ayah diam beberapa saat, memperhatikanku lekat-lekat. “Mereka adalah tamu istimewa kita. Jadi jaga sikapmu ketika mereka datang. Kalau kau berbuat yang tidak-tidak lagi, ayah yang menentukan hukumannya. Mengerti?”

Dan malamnya mereka benar-benar datang. Ayah dan ibu mempersiapkan semua ini dengan matang. Makanan mewah dihidangkan di meja makan yang panjang dan besar itu. Semua ruangan dipel, dan Kak Dona mengenakan baju terbaiknya.
Sialnya, Arine memilih kamarku untuk ditempati.
* * *

Aku terpaksa tidur di kamar menyeramkan itu hanya dengan satu buah matras, selimut tipis dan sebuah bantal yang keras. Menyebalkan. Arine hanya tersenyum puas sambil bertolak pinggang saat ia memilih kamarku dan melihatku merengut karenanya.

Malam tiba. Seperti biasa, aku tidak bisa tidur. Lampu tidak kumatikan, dan kubiarkan selimut membungkusku hingga ke hidungku. Aku tetap terjaga. Rasanya waktu berputar cepat sekali. Pukul 9, pukul 10, pukul 11. Dan aku tetap tak bisa tidur. Telinga kupasang baik-baik. Tetapi saat itu sama sekali tak ada suara apa-apa. Satu jam pun berlalu. Tidak, tidak satu jam. Tetapi pukul 11 lewat 59 menit 55 detik. Jam dinding terus kuperhatikan dan kuhitung detiknya. 56, 57, 58, 59 … Dan saat itu, lonceng jam di ruang tamu berdentang keras. Itu sedikit membuatku terkejut. Aku benar-benar tak percaya. Ini-lah pertama kalinya dalam seumur hidup aku tidak tidur hingga pukul 12 malam.

Tiba-tiba sesuatu terjadi.

Lampu kamarku dalam sekejap mati, dan aku sangat ketakutan. Aku berlari menghampiri pintu dan berusaha membukanya. Tetapi tidak bisa. Terkunci! Padahal pintu itu tak ada kuncinya sama sekali. Aku terus memaksa membukanya dan menggedor-gedor pintunya.
“Tolong!” teriakku panik. “Tolong aku! TOLONG!”
Di sekelilingku benar-benar gelap, hitam, dan hanya sedikit cahaya yang masuk melewati jendela besar di sana. Aku tak henti-hentinya menggedor pintu. Pikiran-pikiran tentang makhluk halus atau hantu mengiang di pikiranku.
Aku diam sebentar dan mengatur nafas. Anehnya, Paman dan Arine yang tidur di sebelah ruangan tidak mendengarku sama sekali. Ayah, ibu atau Kak Dona pun tidak datang menghampiriku, padahal teriakanku sangat keras.

Saat diam beberapa detik, tahu-tahu lampu sudah menyala kembali. Aku tersentak kaget. Tapi anehnya, lampu di ruangan itu sangat pudar dan berwarna kuning. Padahal sebelumnya lampu berwarna putih terang. Aku masih menghadap ke pintu, berjalan mundur perlahan-lahan ke belakang. Debu dan sarang laba-laba menghiasi setiap sudut tembok, membungkus lemari dan peralatan yang ada di sana. Lantai yang kupijak sangat kotor dan berpasir. Aneh sekali. Aku merasa seperti berada di masa lampau.

Masih dengan keheranan, aku berbalik menghadap jendela besar. Tiba-tiba ada sesuatu yang hampir membuat jantungku lepas. Ada sesuatu yang membuat urat nadiku hampir putus, membuat kakiku bergetar hebat karenanya. Mulutku menganga lebar, mataku terbelalak. Aku seperti disambar petir.

Ya. Di sana, di jendela itu, sebuah sosok anak perempuan seumuranku tergantung melayang dengan tali tambang melilit di lehernya. Dia menghadap ke arahku. Gadis itu memakai baju daster hingga ke lututnya. Seluruh tubuhnya berwarna putih pucat, rambut hitamnya yang panjang sebahu tergerai menutupi sebagian wajahnya. Tetapi dapat kulihat dengan jelas; matanya melotot lebar seolah-olah akan keluar.

Mulutnya terbuka sedikit, dan darah mengalir lembut melalui hidung dan mulutnya. Kakinya yang tel***ang bergelantungan dan bergerak sedikit ketika ada angin kencang menerpa.

Aku menjerit kencang sekali. Ini bukan rumahku. Ini bukan ruangan itu.

Kubawa kaki ini berlari menghampiri pintu dan memaksa tanganku membuka pintu itu. Tetapi pintu tetap terkunci. Aku panik. Sangat panik.
“AYAH! IBU! TOLONG AKU!!”
* * *

[29 Februari 1992]
“Tolong aku … “

Di sudut ruangan itu, Lyssa merapatkan kedua lututnya, menunduk, dan menangis lagi. Sudah lebih dari seminggu ia disekap di dalam kamar kosong tanpa ada yang menemani seorang pun. Hanya dua buah obor yang terpajang di dinding, menyinari sedikit ruangan itu. Cahaya bulan merembes masuk melalui jendela besar di belakangnya.

Sudah banyak korban berjatuhan. Dan yang mengalami pasti selalu anak perempuan. Dan kini, Lyssa pun ikut terpilih. Semula ia tak terlalu mengerti hal itu, namun ketika ada sekelompok pria tak dikenal menawarkan permen dan boneka, Lyssa terbujuk dan menuruti perintah pria-pria itu. Lyssa dibawa ke suatu tempat yang jauh sekali dari rumahnya. Ia disuruh masuk ke dalam sel yang penuh dengan jeruji—mirip seperti penjara. Di sana, banyak sekali anak-anak perempuan seumurannya yang sedang duduk membungkuk. Wajah mereka sangat memelas, seolah tidak ada harapan yang akan menyelamatkan mereka dari kengerian itu. Mereka semua sangat kurus dan cekung.

Dan inilah awal malapetaka yang dialami Lyssa. Gadis cantik itu harus menerima siksaan yang amat sangat menyakitkan. Ia tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuanya—padahal di kejauhan sana, orang tua Lyssa sangat panik mengetahui anaknya hilang. Sirine mobil polisi terdengar di mana-mana. Sementara surat kabar tak henti-hentinya menampangkan berita itu; “Penculikan Anak Terus Berlanjut”.

Satu per satu anak di dalam ruangan itu dipanggil dan dijual ke luar negeri. Lyssa tidak tahu tentang itu. Yang ia tahu, pasti anak yang dipanggil akan dibawa pergi ke tempat yang sangat jauh, dan di sana akan dijadikan budak dan disiksa terus-menerus.

Dan sekarang—tepatnya tanggal 29 Februari, tinggal Lyssa yang terakhir berada di sel itu. Keheningan malam sangat mencekam dan menyiksa dirinya. Baju daster se-lutut sudah dipakainya selama seminggu. Ia juga menggigil kedinginan. Angin kencang terus menerpa hingga tulang-tulang kurusnya.

Sebelumnya, Lyssa dan beberapa anak lainnya sudah berusaha untuk kabur. Mereka dengan susah payah membuka jendela besar yang digembok dan dirantai. Tetapi suatu kali mereka berhasil. Mereka bisa membuka jendela itu, namun ketika melihat ke bawah, hanya sungai kotor dan hutan yang tampak. Belum lagi ketinggiannya mencapai beberapa meter, dan anak-anak itu terlalu takut untuk meloncat ke bawah. Pada saat itu juga, angin di luar berhembus kencang hingga membanting jendela besar itu. Suaranya sangat keras seperti gempa. Salah satu pria yang ada di bawah langsung berlari menaiki tangga dan memarahi anak-anak itu.

Tiba-tiba Lyssa berpikir, apa yang harus ia lakukan agar ia tidak seperti anak-anak lainnya. Bagaimana cara agar ia dapat menghindar dari semua itu. Ia sangat marah. Marah pada dirinya. Seharusnya, anak berumur 10 tahun sudah bisa menjaga diri sendiri. Ia menyesal kenapa tidak memikirkan baik-baik nasihat orang tuanya. Dan juga anak-anak lainnya. Mereka semua sangat bodoh dan tolol.

Malam itu, Lyssa mengamuk-ngamuk sendiri. Ia menangis, menendang-nendang tembok, meloncat-loncat, mendumel sendiri, dan berteriak-teriak seperti orang gila. Tiba-tiba ia melihat sejumput tali tambang di sudut ruangan. Tangisnya mendadak berhenti. Ia berpikir, ia pasti bisa melakukan sesuatu dengan tali itu. Pasti. Lyssa tersenyum, dan tertawa terbahak-bahak. Ia terus tertawa sambil berjalan mengambil tali itu. Kemudian ia perhatikan paku yang sudah berkarat yang terpajang di atas jendela besar. Tawa Lyssa meledak lagi.

Gadis malang itu mengambil kursi kayu dan menyimpannya di dekat jendela. Setelah menaikinya, ia mengikat tali tambang pada paku dengan sangat erat. Lalu di ujung lainnya, ia membuat simpul tali melingkar seperti sebuah lingkaran. Kemudian ia berbalik dan memasukkan tali itu ke lehernya. Ia pun membiarkan dirinya bergelantungan di jendela itu, membiarkan nyawanya lepas dari tubuh mungilnya.
* * *

Kejadian itu lalu terus terjadi setiap 4 tahun sekali di bulan Februari. Dan bangunan tempat penjualan anak itu pun sudah dibersihkan dan dijadikan sebuah rumah megah. Tetapi jendela besar tetap terpasang rapi di dinding, tanpa meninggalkan sedikitpun sisa-sisa luka seorang anak.

Dan setiap ada anak perempuan berumur 10 tahun berada di bangunan itu saat tanggal 29 Februari, ia akan ikut merasakan penderitaan seperti yang pernah dialami Lyssa.
* * *

[29 Februari 2000]
Aku tersentak kaget. Nafasku tersengal-sengal, peluh berkucuran di keningku. Kulihat sekelilingku. Aku masih duduk di atas matras, dengan selimut tipis dan bantal keras. Lampu di ruangan itu masih berwarna putih terang, dan sama sekali tak ada debu atau sarang laba-laba di sana. Lantainya juga bersih tidak berpasir. Aku bernapas lega. Apakah ini semua hanya mimpi? Yang kuingat, terakhir kali aku memukul-mukul pintu dan memanggil ayah dan ibuku.

Kugali lagi isi pikiranku. Di dalam mimpiku, aku melihat penderitaan Lyssa. Aku melihat bagaimana sosok gadis itu.

Dan aku mengerti.
Suara anak yang meminta tolong kemarin malam pasti adalah suara Lyssa saat ia disekap di sel. Suara jendela dibanting keras itu tak lain adalah ketika Lyssa mencoba kabur dan membuka jendela, tiba-tiba angin kencang datang membantingnya. Lalu suara tapak kaki orang itu pasti adalah suara langkah pria yang berlari menghampiri sel. Dan sel itu sedang kutempati sekarang. Kejadian 8 tahun lalu terus berulang dan menimpa anak perempuan. Syukurlah. Aku bukan anak perempuan.

Tapi … Tunggu.
Setiap ada anak perempuan berumur 10 tahun berada di bangunan itu saat tanggal 29 Februari, ia akan ikut merasakan penderitaan seperti yang pernah dialami Lyssa.

Anak perempuan.
10 tahun.
Jangan-jangan …

Dan saat aku berpaling ke belakang, di jendela itu sudah tergantung sesosok anak perempuan yang sangat kukenali.
“ARINE!!!”

CERITA LUCU


Bejo : mak..... emak sakit ya???
Emak : iya jo...
Bejo : hmm...kita ke dokter yuk...
Emak : mau bayar pake apa'an....kan duit kita udah tipis jo..
Uhukk...uhukk
Bejo : kita jual si tole(kambing) aja mak..
Emak : tapi kan tuh kambing kesayangan elu....
Bejo : kan bejo lbh sayang emak...
Emak : terserah elu aja dah...
Bejo : ya udah..bejo jual ke pasar ya mak...
Emak : iye...inget ya jo...tuh kmbing bandot..lu jual jutaan...
Jangan mau kalo ditawar murah..sayang....
Bejo : iya mak..bejo juga tau...kn bejo dah capek2 ngerawat...
Kalo gitu bejo pamit ya mak...
#berangkat jual kambing

Tak lama kemudian

bejo : mak...kambing kita laku..jutaan...
Emak : alhamdulillah....
Bejo : pertamanya dia cuma nawar 500rb mak..
Ihh enak aja...kambingnya ditawar murah bnget...kagak bejo kasih...
Emak : bagus tuh jo..emang pembeli jman sekarang maunya murah mulu'...terus... Lu jawab apa wktu dia nawar gitu...
Bejo : bejo bilang...pesan emak kambingnya mesti dihargai jutaan pak...
Gitu mak...
Alhamdulillah....setelah mikir lama...
Akhirnya dia mau juga....harga jutaan..
Bejo : Memang berapa jo dia beli tuh kambing???berapa juta???
Bejo : setengah juta mak...
Hebat kan...sesuai pesan emak..jutaan...gimana???puas mak???
Emak : #*@?&@#*-+???
# semaput dadakan

===========================

Alkisah ada 3 pemuda sedang mempamerkan hp mreka

Junot :Gw kemaren bingung milih hp di mall ya udah gw beli I-Phone 5 ajah..
Xaor : Gw kemaren disuruh milih hp ama orang tua,ya udah gw milih BB aja deh*belum puas*
Agil : Gw kemaren mau beli hp tapi bingung banget loh,
Junot& xaor : knpa bngung?
Agil : soalnya semua hp itu ga pake kartu perdana semua..
Junot&xaor : *penasaran* kok gk pke kartu sih?
Agil : iya soalnya layarnya kecil sama cuma muncul angka digit dan +-x : doank!
Junot&xaor : ITU KALKULATOR BEO!!! *lempar ke kuburan*

===================================

Istri : "Pih, Mamih barusan lihat harga pakaian murah2 banget !!!
bener2 sangat murah pih !!Coba deh pih... Jas/Blazer cuman Rp.9.000,
Kebaya Rp. 8.000, Kimono Rp. 7.000, Daster Rp.5000, Kemeja Rp.7500,
Dan Safari Setelan Lkp hanya Rp.14.000, coba bayangin dech pih, murah
kan,.?? Dan masih banyak yang lainnya juga pih !!murah banget !!!"

Suami : "Dimana itu, Mih,.???"

Istri : "Toko baru di depan gang
kita tuh Pih..!"

==================================

Suatu pagi lewatlah seorang penjual daging."Dageeeng! Dageeeeennngg! !!" teriaknya. Seorang ibu rumah tangga yang
sedang sakit gigi sewot banget mendengarteriak an si tukang daging. Ibu : "Hei tukang daging!
Lu kagak punya otak ya....!!!???
"Tukang daging : "Wah
kebetulan gak punya, Bu. Hari ini daging semua..."

============================= 

GARA GARA SINYAL
Cowok:
aduh Bebz, nanti aja
telponnya, disini sinyal aku PUTUS
PUTUS ,,, !

Cewek : APPAAA!!! ?
tega kamu
ya,,, aku nelpon kamu dari paris ke indonesia kamu malah minta
putus !!! ! SALAH AKU APA COBA !!

Cowok: tuh kan, kamu salah
dengar,,, DISINI SINYALNYA JELEK!!!

Cewek: hikz-hikz-hikz... tega
kamu, kamu putusin aku karena, kamu bilang salah aku
karena aku jelek ???

Cowok:
Disini Aku nggak dapat
sinyal ! soalnya Operator aku
Ax*s lagi gangguan, aku sayang
kamu bebz !

Cewek: apaa!! kamu bilang? kamu
dpat gebetan baru, yang
namanya ANIS ? dan kamu lebih
sayang dia? tega kamu ! tega!

Cowok: ya alloh, Mati gue, Bukan
sayang, Aku minta kamu telpon aku sebentar lagi, Aku naik ke
menara dulu, ya,?

Cewek: apa?
oke, aku akan naik
menara eifel, dan aku akan
lompat, dan kamu nggak akan
ngeliat aku untuk selamanya ! dasar BUAYA! HABIS MANIS SEMPAK
DIBUANG !!!

Cowok: *#¥§%$€£
(NGUNYAH hp)

=======================================

Presiden bertanya pada ibu tua penjual kue,

Bpk : "Sudah berapa lama jualan kue?"
Ibu : "Sudah hampir 30 tahun.
Bpk : "Terus anak ibu mana, kenapa tidak ada yang bantu?" ...
Ibu : "Anak saya ada 4, yang
ke-1 di KPK,
ke-2 di POLDA,
ke-3 di Kejaksaan dan yang
ke-4 di DPR, jadi mereka sibuk
sekali pak..."

Presiden kemudian
menggeleng-gele -ngkan kepala karena kagum...

Lalu dengan percaya diri Bapak Presiden
berbicara kesemua hadirin yang menyertai beliau, "Meskipun hanya jualan kue, ibu ini bisa menjadikan anaknya sukses dan jujur tidak korupsi...karen -a kalau mereka korupsi,
pasti kehidupan Ibu ini sudah sejahtera dan tinggal dirumah
mewah..."

Lalu sambil mengarahkan mike
yang sedang di pegangnya ,Bapak Presiden kembali
berbicara kepada wanita penjual kue tersebut ...
Bpk : "Apa jabatan anak di POLDA, KPK,KEJAKSAAN dan DPR?"

Lalu dengan polosnya sang wanita penjual
kue tersebut itu berkata :"Sama... mereka berjualan kue juga disana ..."

Bpk : @#$%$^@%
#Kejang-kejang


SILAU MAN

SILAU MAN
Cerpen Karya Noerhayati

”Nggak deh, Mi. Andi malu.” tolak Andi bersikeras.

Si mami nggak langsung merespon, hanya bibirnya saja yang terus senyum-senyum aneh, tapi nggak lama karena setelah itu anaknya laki-lakinya itu langsung melotot tajam waktu ngelihat maminya hendak tertawa.
”Mamiiiii.... ” teriaknya marah.
”Andi, mami minta maaf deh. Habisnya cuma itu satu-satunya cara.”
”Pokoknya nggak, Andi nggak mau. Titik.” ujarnya sedikit tenang.
”Tapi kan...”
”Ahh, nggak pake tapi, nggak pake’ koma, pake’nya titik.”

Terbayang olehnya tawa ejekan dari teman-temannya nanti ketika melihat kedatangannya dengan keadaan yang memalukan seperti itu. Oh no! Batinnya menjerit.
”Aku mau jalan dulu deh, Mi.” ujar Andi akhirnya.
”Kemana?” tanya mami dengan masih menyisakan senyum di bibir.
”Ke tempat teman, mau minta saran. Andi yakin, mereka nggak mungkin setega mami, mereka nggak mungkin ketawa.” balasnya yakin seyakin-yakinnya.
”Oh.” Jawab mami singkat.
Cuma oh? Ya ampun mami, tega banget sih sama anak sendiri, bukannya dikasih dukungan, Cuma bilang oh??? Sungguh terlalu.
Dengan kesal Andi pun beranjak dari kursi, mengambil ransel kemudian tanpa cipika-cipiki doi cabut sebelum akhirnya mami memanggil dengan suara super lembut.

Sontak Andi berbalik, mengira maminya akan menahan kepergiannya, atau setidaknya mengucapkan sesuatu yang paling tidak bisa membuatnya tenang, aman, damai, tentram, bahagia dan sehat sentosa. Nah lo, jadi jaka sembung.
”Kenapa, mi?”
”Nih.”
Mami melemparkan topi kupluk ke arah Andi dengan wajah tanpa dosa.
”Cara alternatif nomor satu.” katanya sambil mengedipkan mata ke Andi.

Arghhh...
Andi pun berangkat ke rumah Diana sahabat karibnya, dan kebetulan ada Lina dan Hendra disana. Kedatangannya memang disambut dengan suka cita, tapi siapa menyangka ketika Andi membuka topinya, meledaklah tawa ketiga sahabatnya. Bukannya memberi saran atau masukan, semuanya malah ngakak di hadapannya, tanpa rasa segan. Bahkan si Lina, yang wataknya memang suka ceplas-ceplos dengan santainya berkata,
”Sejak kapan lo doyan model begituan?”
Wadaw... sakit hati banget bo!! Belum juga dimintai saran, udah diledekin duluan, ternyata oh ternyata...

Diana tertawa ngakak sambil terus memegang perutnya yang berisi lemak, not beby. Lina sendiri yang membuat guyon tak kalah hebohnya, dengan semangat 45 ia memukul-mukul meja yang ada di hadapannya. Bahkan Hendra, cowok cakep yang nggak hobby tertawa saja jadi ikutan ngakak nggak karuan, liurnya saja sampai muncrat-muncrat keluar. Hanya Andi, cowok kemayu yang sama sekali tak menampakkan ekspresi akan tertawa, seperti yang dilakukan ketiga sahabatnya itu. Hanya wajahnya saja yang terlihat begitu merah padam.
”Sialan lo semua!!” Katanya kesal. Diraihnya ransel yang tergeletak di lantai, kemudian pergi tanpa pamit meninggalkan ketiga makhluk hidup yang sudah mulai meracau, ketawanya saja sudah mirip nenek lampir.
”Nah lo, ngambek tuh!” teriak Diana ketika Andi sudah sampai pintu. Ihh... beneran deh, Tegaaa....
”Shut the fuck up!!!”
Dan Brakkk...
Pintu tertutup dengan suara bantingan yang keras. Ketiga sabahat yang super tega itu pun kaget bukan kepalang mendapat perlakuan seperti itu dari seorang Andi yang selama ini tak pernah marah, bahkan jika diejek. Tapi kok sekarang jadi ngambek gitu? Pikir mereka heran. Bahkan Andi sendiri tak tahu kenapa ia bisa semarah itu.
***

Andi bingung, siapa yang harus disalahkan atas apa yang menimpanya hari ini. Meski doi sudah habis-habisan ngomel sama adik laki-lakinya yang masih berumur enam tahun itu, tapi tetap saja tidak dapat menyelesaikan masalahnya. Sialnya lagi, nggak ada seorang pun yang bisa dimintai saran. Bahkan temannya sekali pun.
”Potong aja, Kak.” kata adiknya polos.
”Apa? Kepalamu sini kupotong. Bikin masalah aja.”
”Ih, kak Andi jahat. Mami...” rengeknya manja sambil memanggil mami yang hanya melihat tingkah kedua anak laki-lakinya.
”Nangis... nangis. Enak ya, sudah gunting-gunting rambut orang semaunya gitu.”
”Dimas kan cuma pengen belajar potong rambut.” balas Dimas membela diri.
”Eh, mau belajar tuh jangan yang beginian, bahaya. Belajar, ya baca buku sana.” teriaknya semakin kesal.
”Dimas kira kak Andi nggak marah, habisnya kak Andi kan diam aja waktu Dimas potong rambutnya.”
”Ya iyalah kakak diam, lagi asik tidur juga.”
”Oh.” jawabnya singkat, sama seperti yang maminya ucapkan tadi siang.
”Bete bete ah!!”
***

Singkat kata singkat cerita, Andi pun menuruti saran mami dan adiknya. Dengan langkah lunglai ia pun pergi ke salon, mengatakan pada karyawannya untuk segera mencukur habis rambutnya. Botak, botak deh sekalian.
Dan setelah beberapa menit kemudian, selesailah prosesi pencukuran rambut tersebut. Andi sengaja tidak melihat cermin, pikirnya nanti saja, selesai dicukur. Dan betapa keget bukan kepalangnya Andi ketika melihat dirinya di cermin, bahkan ia sendiri sempat pangling, itukah dirinya yang sekarang???

Silau abizzz deh!!!
”Ih, lecek bo!” komentar salah seorang karyawan salon yang sudah menjelma menjadi perempuan.
”Apa tuh?”
”Lekong Cekong, bo.”
Mhhh... akhirnya datang juga. Kiamat.

Tak bedanya sewaktu Andi di salon tadi, mami dan adiknya Dimas tak henti-hentinya memuji-muji penampilan Andi. Tapi bukannya senang, Andi malah merengut.
”Andi nggak suka dibilang cakep.”
”Lalu?”
”Pokoknya nggak suka.”
”Iya deh, anakku yang tampan.”
”Mami...”
Hilang sudah kesabaran Andi, ia pun pergi dengan BIMOLI, alias bibir monyong lima centi. Dalam hati ia menggerutu, kenapa sih hari ini gue sial banget?

Ia berencana menemui ketiga sahabatnya lagi, dan berharap kali ini mereka tidak mengecewakannya lagi. Andi sengaja tidak membawa topi, karena ia tak mau melihat temannya kaget dan tertawa ngakak lagi. Tapi tidak seperti apa yang diduga sebelumnya, ketika Andi sudah sampai ke rumah Diana yang kebetulan saat itu juga hadir kedua temannya, Hendra dan Lina semuanya malah mematung, seolah tak mengenali siapa yang sedang berdiri di hadapan mereka.
“Cari siapa?” Tanya Diana polos.
Andi mengerutkan dahi, “Ya cari kalian lah, siapa lagi?”

Diana cs bingung, masing-masing dengan ciri khasnya, Hendra yang mengerutkan dahi, Diana yang garuk-garuk kepalanya yang memang kutuan, dan Lina yang menyipitkan matanya yang sudah sipit dari sononya.
“Emang lo siapa?”
“Ya Ampun, gue nggak dikenali? Tega banget sih kalian ini?”
“Emang kami kenal sama lo?”
“Ampun DJ!!! Gue ANDI.” Teriak Andi jengkel. Sialan banget sih, masa segitunya cakepnya gue ampe nggak ada yang kenal. Batinnya bergumam.
“Andi?” Tanya Diana tak percaya, Lina dan Hendra yang sedang asik duduk di sofa segera menghampiri kedua sahabatnya yang sedang berdiri di pintu.
“Lo Andi?” Ulangnya lagi. Andi hanya manggut-mangut mengiyakan.
“Anjrit. Lo cakep banget. Pangling gue lihat penampilan lo, cakep banget, swear tekewer-kewer.” Lina berteriak kaget mendapati sahabatnya kini menjelma menjadi sosok pria yang amboy cuakepnya...
“Ihhh... sebel deh. Kok semua pada kompakan bilang gue cakep sih?”
“Yah, dipuji kok marah sih? Bangga dong.” Balas Hendra yang tampaknya iri dengan penampilan baru Andi, soalnya seumur-umur doi belum pernah dibilang cakep.
“Gue pengen jadi tuyul. Puas lo?” Ujar Andi mangkel.
Emosinya udah nyampe ke ubun-ubun, doi berbalik cepat, pengen pulang. Pokoknya Andi udah dongkol banget, serba salah deh. Dipotong salah, nggak dipotong justru tambah salah.

Tapi sebelum Andi sampai di pintu pagar, Hendra, Lina dan Diana koor teriak,
“Silau man!! Hahaha.

END

PETUALANGAN NENEK DAN MOBIL SUPER

Pada suatu pagi yang lembab (malamnya hujan) ada seorang nenek-nenek tua yang terbangun dari tidurnya jam 05.30 atau sebut saja jam setengah enam lalu si nenek tadi merapihkan tempat tidurnya yang bau ompol dikarenakan si nenek itu lupa pipis sebelum tidur ,dan setelah ia membereskan tempat tidurnya dia segera berangkat ke kamar mandi sambil membawa handuk yang hanya pitik-pitik basahnya ,di dalam kamar mandi nenek itu menyikat gigi dengan pasta gigi pepsodent ,shamponya Master kids rasa permen karet yang gambarnya Ben 10,dan Sabunnya switshal kidz,setelah mandi nenek itu memakai baju dan celana dengan rapih dan tidak lupa memakai minyak wangi bermerk Casablanca ,lalu si nenek tua tadi bergegas untuk ke dapur dan tiba-tiba nenek itu kaget semua kitchen setnya bolong-bolong digigit tikus ,lalu nenek itu pingsan sejenak dan bangun kembali melihat isi kulkasnya yang berisi makanan dan sayur-sayuran habis . Nenek itu buru-buru ke garasi mobilnya dan memanaskan hammer h3 nya itu setelah mobilnya panas mesinnya dan ingin menuju pasar. Nenek itu pun menginjak kopling dan memasukkan gigi satu. 

Petualangan Nenek Tua dan Mobil Super
Telah lama diperjalan sekitar 30 menit ada kakek-kakek yang menantang off road rally yang menngunakan dodge ram ,nenek itu pun balik arah dan tidak jadi ke pasar . Setelah sekian lama nenek itu menang balapan dikarenakan bensin mobil kakek tadi habis di tengah-tengah balapan yang seru ,akhirnya nenek tua itu menang balapan. Pulang balapan nenek itu lupa untuk pergi ke pasar dan memutar balikkan mobilnya. 

Sekian Lama kemudian nenek-nenek itu sampai dan memarkirkan mobilnya didepan pasar basah. Setelah sampai di pasar basah nenek itu punya alat yang bernama jetpack agar nenek tadi tidak kena basah di pasar,selama di pasar nenek itu membeli sayur dan buah dan juga makananan. 

Sehabis belanja di pasar nenek itu pulang dan menaiki mobil mewahnya itu,waktu pas nenek-nenek itu di jalan tol dia kehabisan bensin dan buru-buru menekan tombol fly di dasboard mobilnya itu (untung avturnya masih banyak). Mobil itu pun mengeluarkan sayap dari bumper tengah dan mengeluarkan Super Nitrous Oxide System dan terbang,nenek itu lebih mahir mengendalikan di udara ketibang mengendalikan mobil di darat,di perjalanan di udara nenek itu bertemu dengan serombongan burung yang sedang migrasi,nenek itu pun nekad menerobos serombongan burung tersebut dan ada beberapa burung yang nemplok di kaca depan mobil nenek itu,setelah melewati rombongan burung ia juga bertemu dengan pesawat turkish airlines yang mengangkut tim sepakbola Manchester United dari kota Manchester menuju kota dubai untuk rekreasi dan pemain Manchester United dan juga pelatihnya sangat terheran dan kaget melihat nenek itu,selepas sudah pesawat rombongan tim Manchester United itu lewat ada seekor belalang tua yang berwarna kuning kecoklat-coklatan menemplok di ujung kaca depan mobil nenek tersebut,nenek itu pun mengambil belalang tua tersebut yang ingin dijadikan sahabatnya dirumah,selepas itu ia berpikir ingin melihat pertempuran di giza dan hanya melewati atasnya saja. 

Tidak sengaja nenek tua dengan mobil supernya itu terbang rendah di dekat konser black eyed peas yang sedang konser di Mexico dan membuat kaget para penonton,selepasnya melewati sebuah konser nenek itu tidak sadar kalau belalang tua tadi yang ia ambil dari ujung kaca sudah sekarat nyawanya dan menaruh belalang tersebut di subuah benda yang bisa membuat belalang itu tidak mati. 

Nenek tua itu merasa bosan dengan terlalu lama berada di udara dan memutuskan melewati jalur laut mengingat avtur di mobilnya itu sudah hampir habis dan sampailah nenek tersebut didalam laut dengan kecepatan tinggi dan setara dengan mobil bugatti veyron yang sedang melaju dengan kecepatan maksimalnya di darat. Nenek itu pun mengaktifkan system udara yang setara dengan oksigen biasa di mobilnya agar nenek itu bisa bernafas walaupun ada di dalam air. Nenek itu tidak sengaja melihat bangkai kapal Titanic,setelah melewati bangkai kapal itu nenek terus melaju dengan kecepatan 15x lebih cepat dari bugatti veyron dan merasa aneh pada warna lautnya itu dan ia melihat GPS ternyata ia berda di laut merah,mesir dan berarti sudah dekat lagi rumahnya di afrika selatan,telah lama kemudian nenek itupun mengantuk dan tibur dengan mengaktifkan system otomatis dengan cara memilih tempat di GPSnya lalu di sentuh maka langsung mobil itu menuju ke tempat tujuannya dengan mempunyai banyak sensor,nenek itupun tertidur pulas. 

Waktu si nenek itu tidur ia tidak mengecek sebelum berangkat apakah kondisi sensor mobilnya itu rusak atau tidak dan ternyata sensornya rusak dan malahan sampai di Samudera Hindia dan ia sempat mengunjungi alam bawah laut Bunaken dan Raja Ampat,disanan ia bertemu dengan ikan-ikan yang cantik dan terumbu karang yang bagus dan indah,dan ia pun mengendalikan mobilnya itu secara manual dengan melewati jepang lalu ia mampir ke kota itu sebentar dengan menservice sensor mobilnya itu,mengisi semua bahan bakar dan membeli 53 tabung Nitrous Oxide System,ia juga menyempatkan blanja-blanja di mall seperti:sushi,makanan siap saji,hamburger,dan juga arabian kebaba,usai sudah nenek tua itu di jepang dan melanjutkan perjalanan pulangnya dengan melewati Russia dan Europe maka sampailah nenek itu di Kairo,Mesir dan ia sempat juga ke Makkah untuk naik haji,.setelah itu nenek pun bergegas melanjutkan perjalanannya pulang. 

Di mobil si nenek ini banyak system yang luar biasa seperti melalui jalur darat,udara,dan air dan juga telah dimodifikasi dengan 100 tabung Nitrous Oxide System dan juga body mobil ini anti apa saja kecuali hari kiamat,dan juga memiliki system hidrolik. Sesampainya di rumahnya di menyadari dia sudah pergi meninggalkan rumah selama 1 bulan (rumahnya itu di afrika selatan)dan juga ia tidak sadar bahwa dari awal mulanya ia ingin ke pasar menjadi keliling dunia dengan. 

Semua itu diberitaukan oleh sensor-sensor canggih di mobilnya tersebut dengan cara melihatnya di dalam komputer serba touchscreen di mobilnya itu dengan ber-OS Microsoft Windows 14 pro yang Original dan juga internet kabel super cepatnya itu,dan bisa juga ban mobil tersebut menjadi super besar untuk berjalan di gurun dengan mudah,di mobil super ini si nenek juga tidak akan kegerahan dengan teknology super canggih ini dengan tidak memakai ac melainkan menggunakan bulatan pitik-pitik yang berada di setiap sudut mobil tersebut yang menggeluarkan hawa sesuai yang nenek itu mau,dan ada juga senjata ampuh yang melebihi senjata AS yang bertenaga nuklir dan juga Pesawat Angel of Death untuk kondisi nenek tersebut yang terjebak dalam kondisi perang hebat dengan bertenaga:1000x lipat Sniper,500x lipat tenaga nuklir,dan 80.000x lipat rudal terhebat masa kini. Nenek itu pun ber-istirahat karna sudah 1 bulan perjalanan keliling dunia dengan mobil supernya.

BIODATA

MY NAME IS
MUH TAUFIQ ARIFIN
IM A STUDENT AT
SMP.N.23.MAKASSAR
CLASS IX5
I LIVE IN
MAKASSAR KOMP.UNHAS.JLN.ELEKTRO BLOK D/91
MY BORN 15 JANUARI 2000
MY PARENTS NAME
ARIFIN TIRO.SPd
ROSDIATI SALIMIN
MY BROTHER IS
MUH ALFIAN ARIFIN
MY SISTER IS
NURUL ARIFIN